Aku tak mengerti, mimpiku kemarin sungguh membekas. Bukan mimpi yang mengerikan atau mencekat nafasku. Hanya saja, aku benar-benar tak mengerti, tak biasanya. Tokoh utamanya adalah aku. Ya, aku yang sekitar 5 sampai 10 tahun lebih tua dari usia sekarang. Setting yang sedikit oriental dengan dimensi waktu yang tak kutahu kapan tepatnya.
Berdiri dengan sandal gladiator, rambut dikuncir ke belakang dan pakaian yang cukup konvensional. Kupijakkan kaki di sebuah aula (lebih mirip kelenteng sebenarnya). Banyak orang menyambutku. Memelukku dengan hangat. Dan, aku hanya terdiam. Aku tak mengerti. "Ada apa ini?" (tanyaku dalam hati). Beberapa hari aku tinggal di rumah yang kata orang-orang memang rumahku (rumah ayah-ibuku tepatnya). Tak ada yang kuingat selam adi sana.
Aku hanya mengikuti rutinitas yang biasa dilakukan penghuni di rumah itu, termasuk memasak (yang tak pernah mahir kulakukan dalam nyata). Aku lebih banyak diam. Mereka yang mengenalku memang mengernyitkan dahi, terheran-heran. Katanya, aku bukan seorang yang pendiam sebelumnya. Ah, aku tak mengerti maksud mereka.
Hari-hariku terisi dengan 'bekerja' di dapur sembari berbincang dengan bibi tua, entah siapa namanya. Dia memanggilku "NoN". Kubiarkan saja, karena aku tak tahu siapa namaku yang sebenarnya. Aku cuma tahu, ada tiga kata yang merangkai namaku, Bianda+Nadia+Annisa (ya, ini namaku dalam nyata). Namun, dalam 'dunia' itu, aku tak mengerti maknanya.
Lambat laun, sekitar tiga bulan setelah aku tinggal, aku cukup bisa membaur di lingkungan yang seharusnya kusebut rumah itu. Aku sudah tahu, apa itu tertawa dan bagaimana caranya tertawa. Ada ayah, ibu, adik, kakak, juga bibi yang mengajariku. Aku senang. Aku bahagia.
Sampai suatu hari, seorang pria datang ke rumah. Ia bertubuh tinggi, kurus, dan wajahnya agak kotor (hmm...maksudnya, ada bulu-bulu halus di sekitar cambang dan janggutnya (tapi nggak sampe brewok gitu)). Jantungku berdetak kencang ketika ia datang, entah kenapa begitu.
Pria yang menurutku sebenarnya cukup menarik itu mendatangi ayah dan ibu. Aku tak tahu, apa maunya. Tapi, ia menoleh ke arahku. Memandangku lama, seperti ada yang berbinar dalam sorot matanya. Ayah dan ibu diam saja, atk berkomentar apa-apa. Aku pun diam. Untuk apa aku bicara?
Keesokan harinya, pria itu datang lagi. Ia membawa seorang gadis kecil yang cantik, mungkin sekitar empat sampai lima tahun usianya. Entah kenapa, rasanya aku ingin menangis melihat gadis kecil itu. Tak kulanjutkan melihatnya. Aku berlari ke kamar yang diberikan ayah-ibu untukku.
Dalam kamar, aku tercengang karena di bawah jendela kamar, pria itu tiba-tiba muncul. Dia berkata padaku, "Kau istriku, ini "Fella" anak kita. Kembalilah pada kami." HWAAAAA!!! Aku terkaget-kaget luar biasa. Aku berlari ke luar kamar, menemui ayah-ibu. Menangis sejadinya karena aku tak mengerti. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan pria itu. Ayah-ibu ikut tercengang, mereka saling menatap dan berkata. "Beraninya dia!"
Aku makin tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi padaku??? Aku bertanya-tanya, "Apa itu istri? Siapa pria dan gadis kecil tadi? Apa hubungannya denganku?". Aku tenggelam dalam ketakutan. Aku membayangkan yang tidak-tidak. Aku bingung. Sekuat tenaga aku mencari jawaban. Dan, aku menemukannya, bahwa: Istri merupakan sebutan seorang suami pada wanita yang dinikahinya.
"Jadi, aku pernah menikah dengan pria itu?" Ini pertanyaan berikutnya. Lalu, gadis kecil itu? Kucari lagi jawaban dalam benakku, bertanya sana-sini. Kutemukan lagi, bahwa: Suami-istri menikah, melakukan hubungan suami-istri, hamil, dan melahirkan seorang anak. HWAAAAAAA!!! "Aku dan pria itu melakukan hubungan suami-istri, lalu aku hamil, dan melahirkan seorang anak perempuan."
Pikiranku semakin tak karuan. Aku makin takut membayangkannya. Benarkah aku sudah menikah dan memiliki seorang anak? Berarti...rahimku ini pernah mengandung selama 9 bulan. Berarti...aku sudah pernah melewati bertaruh nyawa demi melahirkan Fella. Ya Tuhan...
Lelahku bertanya, keesokan harinya pria itu datang lagi. Tanpa Fella. Aku menghampirinya. Menuntut penjelasan sejelas-jelasnya. Aku tak mau larut dalam kebingunganku. Dia hanya mengatakan bahwa kami sudah menikah, beberapa tahun lalu. Kami tinggal di rumah yang sama, sedikit jauh dari rumahku sekarang. Sama-sama bekerja dan bergantian mengurus Fella. Kami bahagia (begitu kat apria yang mengakuiku sebagai istrinya). Suatu hari, aku menghilang, ia mencariku sekuat tenaga.
Di tengah ceritanya, tanpa ia sadari, aku melihat ke dalam matanya. Aku mencari kejujuran. Aku percaya padanya. Aku meyakini tiap katanya. Hanya saja, tanpa bukti, aku tak bisa menerimanya. Pun ayah-ibuku.
Ia datang lagi keesokan harinya, menggandeng Fella yang cantik dengan rambut diikat kanan-kiri. Ingin sekali aku memeluknya, tapi kuurungkan niatku. Pria itu menunjukkan sesuatu pada ayah-ibu. Aku ikut melihatnya. ternyata, ia menunjukkan buku nikah. Ada fotoku dan fotonya berjajar di sana. tertera namaku dan nama pria itu, Adrianto Nirogo.
Mimpiku berakhir gamang. Aku tak tahu apa maksudnya. Hanya saja, membekas hingga kuketikkan ceritanya.
Recent Comments