..Art Namaku yang Lain..

Malam ini, entah mengapa, seseorang dari masa lalu mencoba membeberkan arti namaku. Ini berbeda dari arti namaku dalam 'kamus' nama-nama bayi yang digunakan orangtuaku saat memberiku nama.

Dia bilang: "Kalau benar berarti datangnya dari Allah, kalau salah berarti dari aku." But, whatever he said, satu yang pasti...bagiku, nama itu bukan sekadar kata untuk mempermudah orang lain memanggil dan mengenali kita. Nama itu kenangan, cerminan, dan harapan. Here we go...

..Bianda..

(Dalam 'kamus' berarti: 'Putih' dan jujur)

Kata dia: Nama ini jarang digunakan dlm islam, termasuk kosakata modern. Bianda menunjukkan suatu ketegasan dg sedikit keangkuhan, kesombongan, keras, dan mudah kecewa. Namun, hatinya teramat lembut, di mana kelembutannya seringkali tak tersampai lewat kata maupun sikap.

..Nadia..

(Dalam 'kamus' berarti: Harapan)

Kata dia: Nama ini gambaran wanita modern dg sgl pemikirannya. Cenderung punya sikap, tegas, idealis, namun tetap bijak krn mampu membawa dan menempatkan diri. Cenderung disegani, mudah bergaul, dan mudah dikenang.

..Annisa..

(Dalam 'kamus' berarti: Perempuan)

Kata dia: Ini nama wanita muslim yg terkenal sholeha bgt. Jd harapan ortu tuh kamu bisa jadi seperti itu. Mengerti ttg agama dan bisa berguna bagi agama. Secara sifat, Annisa adalah seorg wanita sesungguhnya. Wanita yg mengerti kodratnya. Wanita yg sabar dlm hal tertentu (cinta dan harapannya), setia, dan apa yg tlah jd pilihannya akan dipertanggung jwbkn dgn teramat baik.

Then...

What should i say?

W O W...

Ehem...sebagian memang kurasakan, tapi ada juga yang mungkin jadi harapanku di masa depan. Bismillah deh...

                            

..Tak akan Lekang..

Dag...dig...dug...

Kali ini yang berdetak bukan lagi purple watch di mejaku, tapi jantungku. Sungguh, ini cukup mengganggu. Aku tak mengerti mau berbuat apa. Pikiranku melayang pada sebuah pesan yang kuterima hampir seminggu lalu. Ya, pesan offline dari "Den".

[03:58] Den: waalaikumussalam...
[03:58] Den: maaf beribu maaf NoN... aku gak balas sms mu
[03:59] Den: juga YM mu baru bisa aku reply...
[04:00] Den: sekali lagi mohon maaf...panjang ceritanya
[04:00] Den: nomormu masih aku simpan...
[04:01] Den: sedang aku, lagi tidak punya nomor...
[04:02] Den: absurd...tapi itulah, dua bulan ini aku mencoba komunikasi satu arah dengan rekan dan teman-teman...
[04:02] Den: bukan aku tidak mau dihubungi...tapi kondisiku yang kurang memungkinkan
[04:03] Den: sejak dua bulan terakhir aku sakit...
[04:03] Den: sakit sangat serius...
[04:04] Den: karena itu aku mencoba konsentrasi untuk mendapatkan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani sakitku ini...
[04:05] Den: rasanya sangat bersalah sama kamu NoN, karena tidak bercerita tentang cobaan sakit yang tengah aku alami...
[04:06] Den: tolonglah kamu fahami
[04:06] Den: pada saatnya aku akan menghubungi kamu dan menceriterakan semuanya....semuanya
[04:08] Den: paling tidak, sekarang kamu tahu aku sedang mendapat cobaan sakit yang sangat serius...
[04:09] Den: dan yang aku butuhkan dan mohonkan dari kamu adalah doa yang ikhlas, agar aku bisa sabar dan tabah menjalani cobaan ini...
[04:09] Den: itu saja NoN...
[04:10] Den: salam buat Bapak, Ibu, dan adik-adik...
[04:10] Den: terimakasih...wassalam

Pesan offline ini kubaca setelah minggu lalu aku tak berhasil menghubunginya. Beberapa kali dua nomornya tak bisa kuhubungi, sms tidak, telpon apalagi (akhirnya kukirimi ia offline messages). Komunikasi dua arah terakhir sekitar bulan Maret (setelah usiaku 23 tahun). Bulan Juni kucoba menghubunginya, sama sekali tak berespon, tak bisa. Ah, "Den"...

Dan...entah kapan tepatnya offline messages itu dikirim "Den" (tak ada tanggal dalam offline messages di meebo). Sudah cukup lama aku tidak mengaktifkan messengerku. Aku menyesal membacanya, tenggorokanku tercekat. Mood-ku drop seketika. Ingin sekali menangis, andai aku tak ingat bahwa aku sedang di kantor.

Beribu tanya menggelayut dalam benakku. Mungkin dibubuhi sedikit kekecewaan. Tapi, aku berusaha untuk mengerti kondisinya. Aku percaya, jika memang ada masanya, dia pasti akan bercerita. Kalau pun tidak, aku tetap akan selalu berdoa untuknya. Aku juga ingin ia selalu tahu, bahwa persahabatanku dengannya, tak akan lekang dimakan waktu.

Ya Allah...lindungilah "Den". Beri dia kekuatan menjalani cobaanMu. Sejenak saja, beri dia kesempatan untuk rasakan bahagia bersama orang-orang yang dikasihinya. Amin...(ya, hanya selarik doa yang bisa kupanjatkan).

..Satu Masa pada Beda Usia..

Tak...tik...tuk...Tak...tik...tuk...

Bunyi itu terus berulang, jarum detik purple watch di mejaku terus bergeser. Aku berusaha mempertahankan konsenterasiku mencari gambar. Satu detk...dua detik...satu menit...dua menit...HWAAAAAAA!!! Tidak untuk selanjutnya. Sebuah foto di mejaku mencuri perhatian. Mungkin juga pikiranku memang sedang melayang ke sana sejak tadi.

Foto itu...aku bersama beberapa rekan dari media-media di Surabaya (ditambah para tutor dari sebuah PR media). Ingatanku melayang pada kejadian lebih dari setahun yang lalu. Aku mengenal "Den" dari sebuah acara pelatihan jurnalistik. Dia tutorku. Segudang pengalaman di dunia media ada dalam kantuong-kantong kehidupannya (kurasa CV-nya terlalu panjang, hehehe...).

Dua hari pelatihan tidak membuatku mengenalnya, sama sekali. Cuma tahu nama, itu saja. Entah kenapa, di hari terakhir para tutor di Surabaya, ia menghubungiku. "Den" dan teman2 Jakartanya itu mau menikmati Surabaya sebelum esok pagi kembali ke ibukota. Bertanya padaku, "Kalau kami mau makan A, enaknya di mana? Kalau kami mau jalan-jalan, enaknya di mana?" (logat Timur "Den" terdengar sangat kental). Aku menjawab apa yang kuanggap MOST WANTED PLACE di Surabaya, lantas kemudian menawarkan diri untuk mengantar (ucapan terimakasih krn pelatihan 2 hari itu membuatku berilmu dan terhibur). Ia setuju.

Sejak itulah aku mengenal "Den" lebih dekat. Pria yang berusia hampir separuh baya itu ternyata orang yang menyenangkan. Dia tidak setua usianya, tapi juga tak lantas jadi sok muda. Fleksibel lah...Banyak pengalaman yang ia ceritakan dan membuatku jadi 'kaya'. Tak seperti kebanyakan orangtua, ia tak membiarkan aku diam dan hanya mendengarkan. So, aku pun bercerita. Ya, kami semua yg ikut ngopi di Kya-Kya bertukar cerita.

Hari-hari berikutnya, kami berkomunikasi melalui media yang ada. Ponsel dan internet tentunya. Aku menyadari, kami makin dekat, saling memosisikan diri sebagai sahabat. Masalah apa yang sedang terlintas kerap kami bahas dengan gaya berpikir masing-masing (ada gap pemikiran tentunya, mengingat selisih usia kami. usianya dua kali usiaku). Lebih sering kami mengupas habis masalah kerjaan, mungkin karena ini tema paling nyambung antara aku dan "Den". Tapi, kami open minded kok! Bisa saling menerima dan mengkritik pemikiran satu sama lain.

Beberapa kali kami sempat bertemu lagi. Dalam situasi berbeda dan rekan yang berbeda. Tetap menyenangkan. Kurasa karena kami membawa pribadi yang sesungguhnya, bukan kepura-puraan. Sungguh, aku sangat menghargai persahabatan yang kami punya.

Walau aku sadar, tak jarang orang akan mengernyitkan dahinya ketika mengetahui bahwa persahabatan kami sedikit mengkhayal. Lagi-lagi krn melihat usiaku yang separuh usianya. Kalau kami jalan, aku ini seperti anaknya. Pandangan umum pasti akan menyudutkan. Tapi, aku tidak terlalu peduli. Aku lebih menghargai apa yang kami miliki. Toh nyatanya memang tidak ada hal buruk (pun pengaruh buruk) dalam persahabatan ini, kenapa aku harus bingung dengan "kata" orang?

Aku selalu berprinsip bahwa ketika kita melakukan hal baik, kita nggak boleh takut. Judgement atau prejudice orang lain kan belum tentu sesuai ama yang sebenarnya terjadi. Jadi, kita nggak boleh takut ama judgement atau prejudice. Selama kita nggak aneh2, nggak macem2, Allah pasti bakal lebih berpihak ama kita. (to be continued)

..Amnesia dalam Mimpi?..

Aku tak mengerti, mimpiku kemarin sungguh membekas. Bukan mimpi yang mengerikan atau mencekat nafasku. Hanya saja, aku benar-benar tak mengerti, tak biasanya. Tokoh utamanya adalah aku. Ya, aku yang sekitar 5 sampai 10 tahun lebih tua dari usia sekarang. Setting yang sedikit oriental dengan dimensi waktu yang tak kutahu kapan tepatnya.

Berdiri dengan sandal gladiator, rambut dikuncir ke belakang dan pakaian yang cukup konvensional. Kupijakkan kaki di sebuah aula (lebih mirip kelenteng sebenarnya). Banyak orang menyambutku. Memelukku dengan hangat. Dan, aku hanya terdiam. Aku tak mengerti. "Ada apa ini?" (tanyaku dalam hati). Beberapa hari aku tinggal di rumah yang kata orang-orang memang rumahku (rumah ayah-ibuku tepatnya). Tak ada yang kuingat selam adi sana.

Aku hanya mengikuti rutinitas yang biasa dilakukan penghuni di rumah itu, termasuk memasak (yang tak pernah mahir kulakukan dalam nyata). Aku lebih banyak diam. Mereka yang mengenalku memang mengernyitkan dahi, terheran-heran. Katanya, aku bukan seorang yang pendiam sebelumnya. Ah, aku tak mengerti maksud mereka.

Hari-hariku terisi dengan 'bekerja' di dapur sembari berbincang dengan bibi tua, entah siapa namanya. Dia memanggilku "NoN". Kubiarkan saja, karena aku tak tahu siapa namaku yang sebenarnya. Aku cuma tahu, ada tiga kata yang merangkai namaku, Bianda+Nadia+Annisa (ya, ini namaku dalam nyata). Namun, dalam 'dunia' itu, aku tak mengerti maknanya.

Lambat laun, sekitar tiga bulan setelah aku tinggal, aku cukup bisa membaur di lingkungan yang seharusnya kusebut rumah itu. Aku sudah tahu, apa itu tertawa dan bagaimana caranya tertawa. Ada ayah, ibu, adik, kakak, juga bibi yang mengajariku. Aku senang. Aku bahagia.

Sampai suatu hari, seorang pria datang ke rumah. Ia bertubuh tinggi, kurus, dan wajahnya agak kotor (hmm...maksudnya, ada bulu-bulu halus di sekitar cambang dan janggutnya (tapi nggak sampe brewok gitu)). Jantungku berdetak kencang ketika ia datang, entah kenapa begitu.

Pria yang menurutku sebenarnya cukup menarik itu mendatangi ayah dan ibu. Aku tak tahu, apa maunya. Tapi, ia menoleh ke arahku. Memandangku lama, seperti ada yang berbinar dalam sorot matanya. Ayah dan ibu diam saja, atk berkomentar apa-apa. Aku pun diam. Untuk apa aku bicara?

Keesokan harinya, pria itu datang lagi. Ia membawa seorang gadis kecil yang cantik, mungkin sekitar empat sampai lima tahun usianya. Entah kenapa, rasanya aku ingin menangis melihat gadis kecil itu. Tak kulanjutkan melihatnya. Aku berlari ke kamar yang diberikan ayah-ibu untukku.

Dalam kamar, aku tercengang karena di bawah jendela kamar, pria itu tiba-tiba muncul. Dia berkata padaku, "Kau istriku, ini "Fella" anak kita. Kembalilah pada kami." HWAAAAA!!! Aku terkaget-kaget luar biasa. Aku berlari ke luar kamar, menemui ayah-ibu. Menangis sejadinya karena aku tak mengerti. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan pria itu. Ayah-ibu ikut tercengang, mereka saling menatap dan berkata. "Beraninya dia!"

Aku makin tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi padaku??? Aku bertanya-tanya, "Apa itu istri? Siapa pria dan gadis kecil tadi? Apa hubungannya denganku?". Aku tenggelam dalam ketakutan. Aku membayangkan yang tidak-tidak. Aku bingung. Sekuat tenaga aku mencari jawaban. Dan, aku menemukannya, bahwa: Istri merupakan sebutan seorang suami pada wanita yang dinikahinya.

"Jadi, aku pernah menikah dengan pria itu?" Ini pertanyaan berikutnya. Lalu, gadis kecil itu? Kucari lagi jawaban dalam benakku, bertanya sana-sini. Kutemukan lagi, bahwa: Suami-istri menikah, melakukan hubungan suami-istri, hamil, dan melahirkan seorang anak. HWAAAAAAA!!! "Aku dan pria itu melakukan hubungan suami-istri, lalu aku hamil, dan melahirkan seorang anak perempuan."

Pikiranku semakin tak karuan. Aku makin takut membayangkannya. Benarkah aku sudah menikah dan memiliki seorang anak? Berarti...rahimku ini pernah mengandung selama 9 bulan. Berarti...aku sudah pernah melewati bertaruh nyawa demi melahirkan Fella. Ya Tuhan...

Lelahku bertanya, keesokan harinya pria itu datang lagi. Tanpa Fella. Aku menghampirinya. Menuntut penjelasan sejelas-jelasnya. Aku tak mau larut dalam kebingunganku. Dia hanya mengatakan bahwa kami sudah menikah, beberapa tahun lalu. Kami tinggal di rumah yang sama, sedikit jauh dari rumahku sekarang. Sama-sama bekerja dan bergantian mengurus Fella. Kami bahagia (begitu kat apria yang mengakuiku sebagai istrinya). Suatu hari, aku menghilang, ia mencariku sekuat tenaga.

Di tengah ceritanya, tanpa ia sadari, aku melihat ke dalam matanya. Aku mencari kejujuran. Aku percaya padanya. Aku meyakini tiap katanya. Hanya saja, tanpa bukti, aku tak bisa menerimanya. Pun ayah-ibuku.

Ia datang lagi keesokan harinya, menggandeng Fella yang cantik dengan rambut diikat kanan-kiri. Ingin sekali aku memeluknya, tapi kuurungkan niatku. Pria itu menunjukkan sesuatu pada ayah-ibu. Aku ikut melihatnya. ternyata, ia menunjukkan buku nikah. Ada fotoku dan fotonya berjajar di sana. tertera namaku dan nama pria itu, Adrianto Nirogo.

Mimpiku berakhir gamang. Aku tak tahu apa maksudnya. Hanya saja, membekas hingga kuketikkan ceritanya.

..Aku dan Jakartaku..

Kupijakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta pagi itu. Masih terlalu pagi bagiku yang biasa melewatkan indah dan sehatnya sinar matahari pagi. Jam 8 lebih dikit, di pertengahan bulan kisaran 2008. Bangunan luas dengan sentuhan arsitektur Prancis itu tampak lengang. Ah, bukan aku aja yang biasa bangun siang, hehehe...

Perutku kroncongan, sepertinya ususku sudah berkontraksi, menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan. Aku lapar. Berangkat terlalu pagi membuatku tak sempat membuat sarapan, selain segelas teh hijau yang kuseruput dengan tergesa. Kuputuskan singgah ke sebuah restoran fastfood dengan maskot kakek beruban dan berkacamata.

Kupesan paket nasi yang paling simple, aku malas cuci tangan pagi2, hehehe...Ternyata seporsi nasi di hadapanku tidak begitu enak untuk disantap. Kupaksa masuk tuh beberapa sendok, biar keganjel, meskipun dikit. Ndilalah malah perutku mulek2 nggak karuan. Tahan...tahan...harus sampai tujuan dulu baru boleh kenapa-napa niy perut! Kutinggalkan sisa paket nasiku dan bergegas menyetop DAMRI.

Ini kali kedua aku tak dijemput siapa-siapa di bandara. Seperti biasa, DAMRI akan berputar-putar mengelilingi bandara hingga penumpang memenuhi kuota kursi yang tersedia. Di putaran terakhir, mesin DAMRI yang kutumpangi bermasalah. O'ow...penumpang kecewa, padahal udah penuh tuh! Puluhan penumpang, termasuk aku, turun dan pindah ke DAMRI yang lain.

# 1 DAMRI bermasalah.

DAMRI sukses membawaku ke tujuan. Ya, tujuan yang notabene tak pernah kutahu di mana sebenarnya.  Dari sana, menurut primbon dari seseorang, aku harus naik mikrolet dua kali. Panas sudah mulai menyengat, bercampur asap knalpot yang tampak pekat (sepertinya emisi kendaraan bermotor di Jakarta tak terjamah UU lingkungan hidup, cieee...sok tau!).

# Polusi udara yang OUCH!

Sudahlah, lupakan tentang mikrolet. Aku lebih memilih lekas sampai di tempat aku bisa duduk dengan nyaman. Dengan penuh keberanian, aku menawar ojek yang berjajar-jajar di sudut perempatan. Saking parnonya, aku berpegang pada satu tarif yang dikatakan primbon. Eh, si tukang ojek pertama bilang..."Aduh Neng, kalau segitu mah berangkat sendiri aja!" (GUBRAK!).

# Culasnya Abang tukang ojek.

Akhirnya toh tetap kusepakati tarif di luar primbon. Setelah tiba di tempat tujuan, barulah kusadari kalau tukang ojek tadi membawaku berputar-putar. Ah jalanan di Jakarta kini sudah tak mampu disesuaikan dengan ingatan masa kecilku. Hiks...bodohnya, aku ditipu. Kebodohanku ini dipertegas oleh seorang teman yang kutemui di tempat tujuanku. "Jalannya deket kok bayar dua kali lipat?" (GLODAK!)

# Aku ditipu Abang tukang ojek.

Jakarta-ku dulu tak begini. Makin lama ternyata makin sangar aja. Tak kututup mata, memang banyak peluang dan tantangan untuk berkembang di sana. Namun, memutuskan kembali ke sana bukan hal yang mudah. Papa memang di sana, tapi hatiku di sini. Entahlah, mengapa kami tak terlalu melirikmu kini? Though, banyak sekali kenangan yang kupatri bersama orang-orang tersayang selama di sana.

Aku dan Jakartaku, akankah kita kembali bersahabat?

..Pingsan (Lagi)..

Sudah cukup lama aku tak merasakannya lagi. Bersyukur sih, karena tak merasakan satu hal ini berarti aku baik-baik saja, hehehe...Ndilalah kok kemaren, aku malah merasakannya lagi. huhuhuhu...IYA! Aku pingsan. Hiks...hiks...Tapi, kali ini pingsannya cukup tentram. Karena aku sedang dalam pangkuan mama.

Pagi pas sampe kantor, tiba2 kudapati perutku sakit banget. Tapi aku masih bisa bertahan tanpa obat (secara aku nyari SENDIRI keliling kantor tapi nggak dapet). Jujur menit-menit berikutnya makin berat buatku. Aku nggak tahan. Nggak ada yang peduli pula. No one (meskipun cuma bersimpati lewat sms). Hehehe...dasar aku ngalem, kayak anak kecil (lagi).

Jam makan siang datang. Aku dijemput keluargaku untuk makan siang bareng. Aku tergolek lemas dengan mimik wajah paling jelek karena menahan sakit (padahal udah minum obat). Kami tiba di sebuah rumah makan, tak jauh dari kantorku. Memesan beberapa menu favorit masing-masing, kemudian menunggu...

Aku berusaha sebisa mungkin untuk merasa lebih enakan. Duduk dengan kaki diangkat-duduk dengan punggung melorot-hadap kanan-hadap kiri-menjatuhkan kepala di pundak mama. Sampai pesanan datang satu per satu pun perutku masih sakit. Ketika mama menyendokkan nasi putih di atas piringku, ketika itulah sekujur tubuhku lemas. Seperti kehilangan energi, sama sekali tak bersisa.

Entah apa yang terjadi, berikutnya aku sadar kalau tubuhku dalam pangkuan mama. Semua anggota keluarga dengan cepat menghabiskan makanan. Kudengar perlahan suara papa, "Buruan dihabisin, abis ini bawa kakak ke UGD RKZ." DEG! Rumah sakit? (lagi?). Sekelabat bayangan muncul dalam benakku. Infus, jarum suntik, oksigen, para suster, dan sebagainya. HWAAAAAAA...kayak dulu lagi dong???

"Bismillah..." Menit berikutnya, setelah kukumpulkan sisa energi yang ada, kupanggil papa. "Pa, berdiri di kananku, tarik aku. Aku mau duduk," pintaku pada papa. Papa pun mengiyakan. Rasa sakit itu masih sangat melekat, aku meringis tak jelas sembari memegang perut. "Lakukan gerakan yoga!" kata papa. (Batinku bilang: Hah? Papa tahu gerakan yoga?). Hehehe...

Aku mencoba menyilangkan kakiku, berkonsentrasi dan melakukan pernapasan diafragma. Berkali-kali. Dan...rasanya lebih baik! Kuminum obat yang kedua siang ini. Ah, tak biasanya aku minum dua tablet dalam kurun waktu tak sampai satu jam. Yeah, then kondisiku membaik.

Makanan di atas meja nyaris tak tersisa. Perutku berdendang. Kupesan satu menu lagi dan memakannya sampai habis (tapi makan juga dibantuin semuanya, hehehe...). Inginku tak kembali ke kantor, sejenak saja beristirahat di rumah. Tapi terbayang raut tak mau tahu dan tak peduli dalam benakku. Kuurungkan niatku dan memilih untuk diantar kembali ke kantor. Memang masih sakit, tapi nggak apa2lah ^^

Aku belajar lagi kemarin.

Aku yang ngalem, kesel banget nggak dipeduliin orang lain pas lagi sakit. Tak seharusnya aku begitu. Orang lain punya kesibukan masing-masing. Punya prioritas sendiri-sendiri. Aku nggak boleh ngalem. Harus lebih bisa nerima. Harus lebih bisa mengandalkan diri sendiri, maksimal opsi adalah keluarga, mereka yang pasti sayang aku dan tak kan pernah pamrih ataupun keberatan ketika aku bersandar.

..Datang Lagi..

Kesempatan itu, datang lagi!!!

Aku patut berbangga.

Kujelang,

atau...

kulepas lagi???

..Memang tak Semua..

Setelah beberapa kali saat ulang tahun mama, aku tak hidup serumah dengannya, finally tahun ini aku hidup serumah bersama. That's why, aku dan adek ingin memberikan such a surprise 'party'. Ide itu datang sehari sebelum hari H. Kami berencana tidak pulang sampai pukul 00.00 di tanggal 18 Juni.

Dalam bayanganku, at least bakal ada temen2 deketku dan adek yang ikut memeriahkan suasana. Ya, terutama mereka yang emang kenal baik ama mama. Aku cuma pengen mama tau, kalo banyak yang sayang sama mama. Adek juga berpikir begitu, tapi berhubung temen deket adek yg kenal baik ama mama lagi keluar kota, nggak bisa deh!

Kalo aku...beberapa temen deketku yang kenal baik ama mama sih ada, lebih banyak dari temen adek pula (baca: kalo adek ada satu temen, aku ada dua temen, hehehe...). Mereka tahu kok kalo mama mau ultah, bahkan tau kalo aku ama adek mau bikin surprise 'party'. Sayangnya, nggak ada yang bisa ikutan. Hmmm...sebenernya aku nggak tau, mereka bisa atau enggak, krn aku emang tidak secara eksplisit meminta mereka untuk datang.

Aku hanya berpikir: "Kalau mereka tau mama mau ultah, mereka tau aku mau bikin surprise, at least mereka pasti tanya dong? Atau berinisiatiflah utk ngelakuin apa kek...(sekadar bertanya, gimana persiapannya? mau dibantuin apa?). Masalahnya, mereka terhitung kenal baik kok ama mama. Mama selalu menunjukkan kepeduliannya pada mereka, masa' iya mereka nggak melakukan sebaliknya?" (baca: aku jadi nggak respek. aku jadi berpikir kalo mama terlalu baik. temenku cuma manfaatin kebaikan mama.aduh, aku jadi mamamania nih...too childish ya? mungkin emang terlalu childish, aku sadar, tak seharusnya aku sengalem itu. tapi, biarlah hari ini kunikmati ke-childishanku, in mom's birthday, hehehe...).

Tanggal 17 malam itu bener2 agak ribet. Belum beli hadiah, belum beli kue, belum beli mawar, lilin, kertas kado, bungkus kado,...Aku kerja sampe malem, adek juga. UGH! Pengennya dibantu. Iya dibantu ama temen yang kenal baik ama mama.

Then, alhamdulillah, adekku dapet bantuan, thanx to Sist Rere yg nemenin adek ke Delta, bahkan membelikan aku makan (tau nggak sih kalo makanan itu sangat kunanti, meski aku nggak secara eksplisit bilang? krn lagi2 aku lupa belum makan nasi dari siang. kelaparanku ditolong susu anlene dari Mbak Yola, hehehe...). Next, thanx to "Mama" Antro dan pacarnya yg nemenin adek beli bunga.

Setelah waktu begitu mepet, akhirnya aku pun dapat bantuan. Thanx to Mr. IT yang mau nemenin beli Strawberry Birthday Cake di 10 menit menjelang jam 9 (untung Holland Bakery masih buka pas jam 9 lewat 15 kita nyampe). Juga makasih buat Mr. Chef yang bantuin bungkus kado sambil kuomel2in (hehehe...maaf!). Thanx juga buat "The Parkers" yang udah mau menampung aku ama adek sembari menanti jam 23.45.

Thanx for all the help, KARENA AKHIRNYA...aku dan adek bisa lihat rona bahagia di wajah mama ketika kami mengetuk pintu kamarnya, menyanyikan lagu "Happy Birthday" sambil membawa Strawberry Birthday Cake dengan lilin berbentuk angka 49, menggenggam sebuket mawar putih dan sebuah kado berbungkus hijau cantik. Aku dan adek bahagia, bisa melihat mama tersenyum gembira luar biasa saat ke luar dari kamar, meniup lilin, membuka hadiah dari kami, dan mencium mawar putih.

Dini hari itu, kami bertiga duduk bersama, masing-masing dari kami menahan airmata, mengusahakannya agar tak sampai terjatuh dan mendarat manis di pipi. Kami berpelukan dengan perasaan penuh sayang. Kami bahagia! MEMANG, tak SEMUA mengerti nilai yang kami miliki, rasa yang kami resapi, dan kekuatan ikatan kami. Hanya kami yang tahu!

Lepas dari tanggal 18, aku menyadari sesuatu. Bahwa tiap orang punya value pribadi yang memang tak sama denganku. Aku harus menghargainya. Aku boleh kecewa, tapi aku tidak boleh memaksakan siapa pun untuk mengerti valueku. Aku boleh mengomunikasikannya, tapi lagi2 tidak memaksanya.

Selain itu, aku juga belajar...lebih tepat kalo aku mengandalkan diriku sendiri (maksimal, mengandalkan keluargaku. adek, mama, dan papa). Berharap atau bergantung pada orang lain bisa membuatku kecewa, bahkan lemah kalau ternyata memang orang lain itu tak bisa diandalkan.

(nb: temen dalam tulisan ini JELAS BUKAN PACAR. then, blog ini kutulis dengan sangat kekanak2an)

..Aku jadi Tante..

Tak kupungkiri, ada sedikit sesal dalam hati. Tak bisa kudengar tangisnya, tak bisa kulihat wajahnya, tak bisa kusentuh tubuh mungilnya. TAPI, aku yakin dia begitu cantik, perpaduan antara sahabatku, Indri, dengan Dimas suaminya.

Aku benar-benar ikut merasakan kebahagiaan sahabat dari SD-ku itu. Walau aku tak tahu, bagaimana ia mempertaruhkan nyawanya demi bayi cantik berbobot 2.9 kilo itu. Walau aku tak tahu, bagaimana wajah bahagianya mendengar tangis pertama yang memekakkan telinga tepat pukul 04.20 WIB. Aku hanya YAKIN kalau Indri kuat dan akan menjadi ibu yang sangat baik.

Pokoknya, pagi ini aku bahagia!!! BAHAGIA banget...karena aku...JADI TANTE ^^

..Me&deskmate: Kehilangan..

Belum genap sebulan aku kehilangan left deskmate-ku tersayang. Dia yang SUPERrame, gak jaim, gila, sinting, miring, dan gak jelas itu pergi. Ia memilih tantangan baru, mengadu nasib (included nasib percintaannya) dan peruntungannya di ibukota. Jalan dua minggu di sana, tampaknya ia cukup menikmati. Menikmati pekerjaan barunya, lingkungan kerja barunya, gaya kerja barunya, juga para rekan kerja barunya.

I'm so happy for you mbak! Iya, aku bener2 ikutan happy. Bisa ikut ngerasain gimana dia menemukan kebebasan di sana. Seperti terlepas dari semua perasaan mengganjal dan tertekan yang selama ini ia kecap di tempatku sekarang berada.

Then, kemaren, back deskmate-ku juga bersiap menghilang dariku. Dia yang super sabar, baik, lugu, polos, lembut, keibuan (KEBALIKAN dari left deskmate-ku) selama ini menjadi sosok yang begitu klop bagiku. Ya, karena dia mampu melengkapi, menyisipkan kekuranganku dengan kelebihannya. Karena dia sungguh2 kebalikanku (juga), aku banyak belajar hal-hal baik darinya ^^

Hari ini eksekusi back deskmate-ku. Dia pindah ke divisi lain. Hari pertama baginya dengan pekerjaan baru (walau di tempat yang sama), sepertinya dia cukup menikmati. "Cuma butuh belajar banyak Bee," katanya. Yeah, dan ini hari pertamaku juga. Yeah, finally, here i am...with my new back deskmate. Beradaptasi lagi.

Aku hanya berharap yang terbaik untuk deskmates yang telah meninggalkan aku. Semoga betah di tempat baru. Aku juga berharap, deskmate baruku...semoga betah deket ama aku, huehehehe...

Ya, beginilah hidup...bisa silih berganti, seperti musim. Pertanyaannya, KAPAN AKU YANG MENINGGALKAN DESKMATE-ku? hahahaha...